SENSUS HIJAU SEBAGAI LANGKAH AWAL TREN KAMPUS HIJAU

Pendataan suatu sebaran semisal penduduk, pekerjaan, ekonomi, pendidikan dan berbagai data penting lainnya perlu dilakukan. Hal ini dikarenakan setiap data tersebut diperlukan bagi kelembagaan termasuk pemerintahan dan universitas untuk kemajuan dan mencapai suatu tujuan yang ingin dicapai. Akan tetapi, dari berbagai bidang yang pernah diklaim perlu untuk disensus (penduduk, ekonomi, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dll) sering terlupakan oleh sebagian besar orang bila berkaitan dengan lingkungan hidup. Padahal, bidang ini salah satu yang memiliki peranan penting bagi keberlangsungan dan kemajuan setiap kepentingan. Begitu banyak tipe dari bidang lingkungan hidup yang perlu mendapatkan perhatian untuk dikumpulkan datanya seperti satwa, vegetasi, faktor lingkungan, dll.

 

PENDAHULUAN

Universitas sebagai salah satu dari jenis kelembagaan merupakan salah satu yang memerlukan pendataan berbagai bidang tersebut. Sehingga, biasanya dilakukan berbagai hal yang berbentuk sensus – seperti asal mahasiswa, bidang keahlian dosen, jumlah minat jurusan, dsb – untuk mendapatkan sebaran data yang diinginkan melalui berbagai cara baik secara langsung maupun online. Tren hijau dan isu pemanasan global yang menjadi pemicunya memaksa universitas untuk juga memasukan bidang lingkungan hidup sebagai salah satu data yang penting untuk dikumpulkan.

Tersedianya ruang hijau dan hutan kampus yang cukup banyak dan memadai tidak cukup untuk mencapai predikat trendsetter kampus hijau. Masih begitu banyak hal yang perlu dilengkapi untuk memenuhi persyaratan dalam memperoleh predikat tersebut. Terutama, untuk mewujudkan slogan yang diusung kampus Banjarbaru. Selain itu, label Emerald Campus yang ingin diwujudkan menjadi salah satu tuntutan yang semakin tinggi untuk dicapai.

Salah satu yang dapat mendukung ketercapaian target tersebut yaitu tersedianya data vegetasi yang dimiliki kampus. Data vegetasi ini berupa jumlah, jenis, tipe, usia, kondisi, sebaran, stok karbon, dan tutupan vegetasi yang ada. Sehingga, untuk mendapatkan sejumlah data tersebut – dalam kondisi ketidak tersediaannya data yang ada – perlu diberikan perhatian lebih terhadap data vegetasi. Oleh karena itu, sensus hijau adalah sarana bagi ketercukupan data vegetasi yang diperlukan bagi kampus ULM Banjarbaru untuk mencapai tujuan sebagai trendsetter kampus hijau dengan label Emerald Campus yang mengusung slogan “a green, clean an safety campus” (kampus yang hijau, bersih dan aman).

 

DATA SENSUS

Layaknya sensus penduduk, pelaksanaan satu kali sensus hendaknya bersifat efisien. Sehingga dapat mencakup berbagai data yang diperlukan dalam satu kali pendataan. Sensus vegetasi pun harus memegang efisiensi agar tidak terjadi tumpang tindih kegiatan yang menyebabkan kerugian yang tidak perlu baik dari biaya, waktu maupun hal lainnya. Sebagaimana yang telah disebutkan, beberapa data yang diperlukan tersebut adalah jumlah, jenis, tipe, usia, kondisi, sebaran, stok karbon, dan tutupan vegetasi yang ada.

Tipe yang diutamakan tentunya adalah tipe tumbuhan berkayu seperti pohon dan perdu. Akan tetapi, tumbuhan bawah seperti rumput tidak kalah penting. Hanya sanya jenis sensusnya tidak sebanyak tumbuhan berkayu. Hal ini dikarenakan pengaruh tumbuhan bawah terhadap kualitas lingkungan yang berkaitan terhadap manusia tidak terlalu besar.

 

TIPE VEGETASI

Tipe vegetasi adalah salah satu faktor utama yang menjadi penentu dalam pemenuhan status kampus menjadi kampus hijau. Hal ini berkaitan dengan struktur vegetasi yang terbentuk. Sebagaimana yang kita tahu, secara garis besar tipe vegetasi terbagi menjadi beberapa strata yaitu pohon, semak dan perdu, serta rumput dan tumbuhan bawah. Setiap strata ini memilik peran penting dalam sebuah linkungan, apalagi area perkotaan yang memiliki intensitas berbagai macam polusi yang relatif tinggi. Karena, kurangga salah satu strata penyusun dapat menumbulkan kurang baiknya kualitas lingkungan yang tentunya dalam konteks pencapaian kampus hijua berpengaruh pada pencapaian status kampus hijau sebagai akibat jangka pendek dan perbaikan vegetasi suatu daerah sebagai akibat jangka panjangnya.

 

JENIS VEGETASI 

Jenis vegetasi tidak dapat dihapus dari daftar sensus. Karena, terdapat janis-jenis (spesies) tertentu yang justru tidak baik bila berada dalam ekosistem yang kita rancang dan miliki. Istilah “tidak baik” yang dimaksud disini adalah semisal terdapat pohon yang ternyata bersifat invasif terhadap vegetasi lainnya atau memiliki zat semisal alelopati yang dapat berdampak negatif bagi kawasan tersebut. Maka, jenis tersebut tidak seharusnya ada di kawasan yang dikelola oleh pihak kampus. Sebaliknya, pengutamaan terhadap jenis yang endemik misalkan perlu dilakukan untuk menjaga kelestarian jenis tertentu selain untuk meningkatkan luasan kawasan hijau yang ada.

 

JUMLAH VEGETASI

Tidak diragukan lagi jumlah adalah penentu utama dalam status ruang hijau. Karena , jumlah suatu jenis yang telalu banyak atau terlalu sedikit dapat mengakibatkan ketidak stabilan dalam kualitas ruang hijau yang ada. Hal ini yang menuntut revegetasi besar-besaran harus terjadi di suatu kawasan – dalam konteks ini wilayah kampus – demi tercapainya kampus hijau.

 

KONDISI VEGETASI

Jumlah yang melimpah tidak dapat dijadikan faktor utama satu-satunya suatu kawasan hijau dikatakan baik. Karena, jumlah yang melimpah dengan kondisi yang memprihatinkan menjadikan kualitas lingkungan hijaunya menjadi tidak sehat. Oleh karena itu, kondisi vegetasi hendaklah menjadi salah satu data utama. Sehingga, apabila didapati kawasan hijau di lingkungan kampus yang tidak sehat dapat dilakukan tindak lanjut terhadap kondisi yang tidak sehat tersebut.

 

STOK KARBON

Vegetasi yang baik hendaklah dapat menyerap dan menyimpan karbon dalan jumlah besar atau mencover kekurangan dari vegetasi lainnya yang juga mampu menyerap karbon dalam jumlah besar. Sehingga, perwujudan terhadap kampus yang bersih dapat tercapai. Terutama bersih dari penumpukan karbon berlebih di udara.

 

TUTUPAN VEGETASI

Ukuran kanopi menjadi penting ketika jumlah vegetasi yang besar memiliki kekurangan dalam menjadikan lingkungan hijau yang baik. Tutupan vegetasi menyediakan teduhan yang dapat meningkatkan kelembaban dan menurunkan temperatur di sekitar area atau dikenal dengan istilah iklim mikro. Oleh karena itu, data ini diperlukan untuk keputusan pelaksanaan tindak lanjut terhadap kondisi ruang hijau yang tidak baik.

 

PELAKSANAAN SENSUS

Secara tingkat kepentingan, pelaksana mungkin hanya sebagai sarana teknis. Akan tetapi, dalam praktiknya komposisi pelaksana menentukan efektifitas dan efisiensi kerja dan hasil yang didapatkan. Sehingga, secara tidak langsung menjadi faktor penentu data yang diperoleh di lapangan.

Posisi kampus sebagai wadah edukasi tingkat tinggi menjadi tempat bagi berbagai tingkatan warga kampus. Mulai dari pejabat kampus, pengajar, staf, mahasiswa, hingga, petugas lapangan memiliki peran penting masing-masing di lingkungan kampus. Oleh karena itu, hendaknya komposisi dari tim diisi oleh masing-masing tingkatan tersebut. Hal ini dimaksudkan karena setiap tingkatan tersebut memiliki pengetahuan khusus di kalangannya masing-masing dalam aktivitas kampus. Sehingga apabila seluruh kalangan ini ada dalam komposisi pelaksana sensus diharapkan dapat memunculkan kinerja tim yang efisien dan efektif.

 

PENUTUP

Sensus vegetasi adalah faktor vital yang menjadi penentu dalam proses membawa ULM menuju kampus hijau dengan label Emerald Campus yang mengusung tagline “toward a green, clean and safety campus”. Oleh karena itu, perhatian yang lebih perlu diarahkan pada aktivitas ini agar terwujud efektivitas dan efisiensi dalam pelaksanaanya

 

artikel asli:

  1. http://koordkampus.ulm.ac.id/id/2016/12/21/sensus-hijau-sebagai-langkah-awal-tren-kampus-hijau/
  2. https://dienny.webs.com/apps/blog/show/44373486-sensus-hijau-sebagai-langkah-awal-tren-kampus-hijau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *